Jumat, 24 Mei 2013 07:35 WIB

RSS Facebook Twitter Linkedin Digg Yahoo Delicious

Berita Sebelumnya

23 Juli 2012, 20.58 | CNC - 007
kejari-cirebon-terus-usut-dugaan-korupsi-proyek-drainaseKEJAKSAN, (CNC).- Kejaksaan Negeri Cirebon berupaya terus...
147 0 0
11 November 2012, 12.40 | CNC - 007
kkgpai-kecamatan-gegesik-gelar-sapta-lombaGEGESIK, (CNC).- Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam...
208 0 0

Dunia Pendidikan

28 November 2012, 15.04 | CNC - 007
mahasiswa-indonesia-bahas-isu-budaya-di-baliDENPASAR, (CNC).- Pada penghujung tahun 2012, Badan Eksekutif...
349 0 0
28 November 2012, 21.28 | CNC - 007
smk-pertiwi-kuningan-buka-bursa-kerjaKUNINGAN, (CNC).- Turut serta menekan angka pengangguran, SMK...
455 0 0
Sabtu, 19 Januari 2013 15:12 WIB

Mengambil Manfaat Keberadaan Facebook dan Twitter

CNC -  Bakhrul Amal *)
(0 votes)
Bakhrul Amal Bakhrul Amal

DALAM waktu singkat tekhnologi hadir dan berbaur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dengan begitu cepat. Dimulai dari era milenium hingga pasca isu kiamat besar 2012, tekhnologi terus mengalami perkembangan. Yang paling mudah dan mungkin digemari sejauh ini adalah media online dalam bentuk kemasan jejaring social, seperti Facebook dan Twitter.

Seperti kita ketahui bersama, dua brand besar tempat bertukar pikir dan mencurahkan isi hati ini tidak pernah sepi, bahkan setiap waktunya terus mengolah informasi-informasi terbaru. Kemudahan dan akses informasi yang begitu cepat adalah selling point tersendiri mengapa media ini paling sering digunakan. Selain itu kata-kata yang setiap tweet atau update statusnya dibatasi membuat audience tidak terlalu bingung dan justru memiliki kesan praktis.

Yang menyedihkan adalah dewasa ini, isu boikot hingga black campaign untuk menggembosi jejaring sosial ini semakin santer. Dari mulai segi kemanfaatan yang dinilai lebih banyak buruknya, ketidak etisan menyebarkan kesedihan di depan umum hingga yang sifatnya teologis dipakai untuk mengurangi antusias masyarakat terhadap teknologi melaui media jejaring sosial. Dalam hal ini, pemikaran objektif mengambil manfaat dan phobia peradaban memang sulit di bedakan.

Perubahan pada dasarnya memang selalu di kelilingi penolakan dan kontroversi sebelum akhirnya ada yang membuktikan bahwa itu baik. Ambil contoh, sekelompok kaum muslim ektremis yang tergabung dalam struktural fundamental wahabi sempat mengatakan jejaring sosial bid’ah, karena hal itu tidak dilakukan pada zaman Nabi. Tetapi nyatanya politik propaganda mereka dalam mensyiarkan ajaran dan mendiskrediktkan kelompok lain toh menggunakan media ini pula.

Ada lagi selebaran isu yang menjelaskan silsilah berdirinya jejaring sosial hingga berujung pada proyek besar kaum yahudi menaklukan dunia. Tuduhan ini selain tidak berdasar, tentunya mampu menghncurkan keharmonisan hubungan dunia. Masyarakat diarahkan dan dibuat curiga dengan hal-hal baru tanpa diberi kesempatan untuk memanfaatkan tekhnologi, karena apabila menggunakan media sosial artinya telah terkungkung Yahudi.

Marilah kita tengok sejenak perkembangan media sosial di negara kita, negara Indonesia. Di belahan dunia lain hal-hal atau isu-isu diatas tadi bisa di bilang masuk akal tetapi di Dunia Indonesia hal itu tidaklah sama. Kita tentunya ingat ketika ribuan manusia tumpah ruah meminta agar Bibit dan Chandra (Petinggi KPK) di bebaskan. Hal itu tidak lain tidak bukan berkat jasa fanpage save KPK dalam urusan Cicak vs Buaya.

Di Amerika dan Eropa mungkin twitter adalah sarana menumpahkan unek-unek dan perasaan selama satu hari penuh. Di Indonesiapun tidak beda jauh. Tetapi di Indonesia Twitter yang memang sudah umum menjadi media curcol bisa di sulap menjadi program pendesemiasian ide yang kita kenal dengan kultweet. Bahkan ada pula yang memanfaatkan jejaring sosial sebagai forum informasi dalam Kota seperti @aboutcirebon, @infosemarang dll.

Dalam menyikapi berbagai macam hal Tan Malaka mengajarkan kita untuk memakai teori tempo. Kita perlu memakai tempo buat mengubah titik menjadi garis atau garis menjadi bidang dan akhirnya bidang jadi badan. Kalau sudah cukup memakai tempo, kita bisa menjawab mana titik, mana garis, mana garis dan mana bidang, mana bidang dan mana badan. Tetapi pada saat dimana titik belum menjadi garis, garis belum menjadi bidang dan sebagainya, kita tidak bisa jawab apakah ini titik atau garis dan seterusnya. garis atau bidang.

Atau apabila memahami metode tempo terlalu sulit, kita bisa gunakan metode praktis ABC yaitu accurate, brief dan clear. Untuk pemaknaan lebih jelasnya maka di bawah ini akan saya coba untuk men crack satu persatu :

Accurate

Maksudnya adalah pemahaman secara tepat, terarah dan tidak asal-asalan. Imam Al-Ghazali pernah mengatakan bahwasanya sebelum kita menyerang sesuatu kita harus memahami terlebih dahulu apa yang kita anggap jelek itu. Pemahaman ini sangatlah penting agar kita tidak mudah dibohongi dan terjebak pada opini yang sesaat.

Brief

Brief ini diartikan sebagai sesuatu ringkas dan tidak berbelit. Menekankan pada diri atau self deffence melakukan apa yang membuat kita dan lingkungan kita nyaman.

Clear

Yang tidak kalah penting adalah buanglah segala hal yang membuat kita berpikir buruk. Tetap tenang dan berpegang teguh pada pemikiran positif thinking.

Setelah terpapar jelas semuanya, pada akhirnya kita harus jujur, bahwa kemajuan tekhnologi tidak semua salah, selama masih dalam batas mengambil kemanfaatan. Kita tidak bisa menilai hal secara serampangan tanpa mengunakan prinsip progresifitas. Yang manfaat dan yang tidak, bisa kita cerna lebih jeli dengan menenangkan dan memberikan kesempatan pada hati serta pikiran untuk saling sinkron. Jangan lalu karena ada sebagian yang jelek maka jeleklah secara keseluruhan.***

*) Penulis, aktifis sosial SOLIDARITAS dan Mahasiswa Universitas Diponegoro asal Kota Cirebon, Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya @bakhrulamal

Berita Terkait

Komentar


 
IKLANKAN PRODUK/USAHA ANDA BERSAMA KAMI Hubungi 081222175409 e-Mail: iklan@cirebonnews.com