SEBAGAIMANA kerap disampaikan oleh para ahli demografi bahwa penuaan penduduk merupakan fenomena global. Penuaan penduduk merupakan karakteristik demografi abad 21 atau lebih populer disebut abad milenium. Keadaan ini diakibatkan oleh proses transisi demografi, di mana penurunan angka mortalitas seiring dengan semakin rendahnya angka fertilitas. Di samping itu kemajuan di bidang teknologi dan ilmu kedokteran telah dapat menekan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit menular. Bersamaan itu tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat turut mengubah pola hidup masyarakat menjadi anti mortalitas.
Usia harapan hidup penduduk (life expectancy at birth) semakin panjang merupakan output dari perubahan seperti yang digambarkan di atas. Dampak langsung dari peningkatan usia harapan hidup adalah peningkatan jumlah penduduk lansia (elderly). Diperkirakan pada tahun 2009 penduduk lansia Indonesia (60+) sudah berjumlah 20,5 juta jiwa atau sekitar 8,5 persen dari jumlah penduduk kita. Pada tahun 2020 diproyeksikan jumlahnya akan meningkat menjadi sekitar 32 juta jiwa atau sekitar 12,0 persen.
Tabel 1
Peningkatan Usia Harapan Hidup (eo) dan Jumlah Lansia (60+)
Penduduk Indonesia (Laki-laki dan Perempuan)
|
Tahun |
Usia Harapan Hidup (eo) |
60+ |
|
1950 – 1955 |
37,5 th |
5,4 % |
|
1975 – 1980 |
52,7 th |
6,2 % |
|
2000 – 2005 |
67,3 th |
7,6 % |
|
2025 – 2030 |
73,9 th |
12,8 % |
|
2045 – 2050 |
77,4 th |
22,3 % |
Sumber: PBB, 2002
Peningkatan jumlah penduduk lansia terjadi hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Hal ini disebabkan keberhasilan rogram-program pembangunan seperti disebutkan di atas. Terutama berkaitan dengan program akses kesehatan dasar bagi masyarakat dengan adanya Puskemas yang didukung program KB.
Demikian pula di Provinsi Jawa Barat, peningkatan usia harapan hidup penduduk dan jumlah lansia merupakan fenomena abad 21. Peningkatan jumlah lanjut usia sebenarnya merupakan salah satu keberhasilan dari sejarah umat manusia untuk karena dapat bertahan hidup lebih lama. Sebagaimana dapat dilihat pada tabel 2 di bawah.
Tabel 2
Peningkatan Usia Harapan Hidup (eo)
Penduduk Jawa Barat
|
Tahun |
Laki-laki (th) |
Perempuan (th) |
|
1987 |
54,2 |
58,1 |
|
1997 |
59,9 |
63,7 |
|
2002 |
62,2 |
66,0 |
|
2007 |
64,2 |
68,1 |
|
2012 |
66,0 |
70,0 |
Sumber: BPS, 1997
Sedangkan jumlah lansia (60+) di Jawa Barat pada tahun 1995 diperkirakan telah berjumlah 2 juta jiwa atau sekitar 6,24 persen dari total penduduk Jawa Barat pada tahun tersebut. Jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 2,5 juta (6,88 %) pada tahun 2000 dan menjadi 2,9 juta (7,49 %) pada tahun 2005 yang lalu.
Yang menjadi permasalahan adalah apakah mereka menjalani masa tua mereka dalam keadaan sehat, bahagia dan tetap produktif? Karena banyak hasil penelitian menunjukkan lansia kita baru sekedar meningkat usia harapan hidupnya tetapi tingkat kesakitan (morbiditas) mereka masih tinggi. Temuan penelitian juga melaporkan bahwa lansia perempuan cenderung lebih rentan sakit dan dalam disabilitas menjalani masa tuanya.
Kondisi demikian akan menghambat lansia tetap dapat beraktivitas produktif. Atau mungkin juga terjadi keadaan yang sebaliknya, karena lansia kita malas beraktivitas akhirnya menjadi sakit-sakitan dan pada gilirannya menjadi tidak produktif. Ahli fisiologi menuturkan bahwa lansia rentan terkena penyakit hipokinetik (hypokinetic disease). Penyakit yang diakibatkan karena kurang bergerak, beraktivitas dan berolah raga.
Karena itu sejak tahun 1995 WHO menetapkan program lansia yang sehat dan produktif. Karena lansia yang sehat dan produktif artinya mereka masih memiliki arti bagi dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Pemanfaatan Waktu
Salah satu fenomena lansia setelah mereka memasuki masa tua atau usia yang dianggap sudah udzur (60+) oleh sebagian masyarakat adalah menarik diri dari segala bentuk aktivitas. Memang sudah menjadi hukum alam (sunatullah) manusia hidup mengikuti suatu siklus: masa kandungan, bayi, anak, remaja, dewasa, lansia dan kembali ke Ilahi. Tetapi dengan ritme hidup yang sehat dan bahagia agar akan berdampak dapat meningkatkan kapasitas fisik maupun mental/psikologis agar selalu bermakna dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Terminologi produktif tidak selalu bermakna ekonomis, yaitu untuk menghasilkan barang dan jasa agar dapat diuangkan atau beraktivitas dalam rangka untuk memperoleh imbalan ekonomis. Lansia produktif juga dapat mengandung makna beraktivitas untuk makna sosial (social meaning) untuk orang lain.
Namun seringkali lansia juga terpola dengan stereoptype di dalam masyarakat. Akhirnya banyak lansia yang menganggap dirinya sudah harus masuk dan diam saja di rumah untuk menunggu dipanggil Yang Maha Kuasa. Pe-maknaan miring (Stereotype) terhadap lansia oleh masyarakat seperti: lansia sudah saatnya menarik dari aktivitas; lansia itu sudah tidak ada arti dan maknanya lagi; lansia itu selalu sakit-sakitan; lansia itu kuno, ketinggalan jaman (out of date); dan lain-lain
Itu semua belum tentu kebenarannya, mungkin hal tersebut dapat terjadi pada kasus individu tertentu tapi tidak bisa dijadikan generalisasi untuk semua lansia.
Sebenarnya untuk lansia perempuan melakukan aktivitas rumah tangga adalah sebagai bagian dari hidup mereka karena rutinitas sehari-hari di rumah. Demikian pula lansia laki-laki biasanya cenderung dominan melakukan aktivitas sosial-kemasyarakatan. Hal ini dapat dimaklumi karena pengaruh adanya pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin.
Beberapa ahli sosiologi mencoba membagi aktivitas sehari-hari (daily activity) lansia menjadi:
Aktivitas Sosial-Kemasyarakatan
Yaitu aktivitas berkaitan untuk menjalin relasi dan ekpresi sosial (keluarga, kerabat, teman, tetangga dan masyarakat). Termasuk di dalamnya aktivitas dalam kegiatan politik, aktivitas keagamaan, dan aktivitas/partisipasi dalam organisasi (sosial-kemasyarakatan, profesi, dll.).
Aktivitas Rumah Tangga
Yaitu aktivitas berkaitan dengan pengaturan/manajemen rumah, dari membersihkan perabotan sampai dengan pengaturan tata ruang rumah.
Aktivitas Hobi/Relaksasi
Yaitu aktivitas berkenaan dengan kesenangan individu atau kebiasaan lansia juga untuk relaksasi. Banyak sekali bentuknya dari membaca buku, menulis, menjahit, menganyam, olah raga, aktivitas seni dan lain-lain.
Lansia kadangkala kebingungan untuk mengekspresikan diri; dimana, bagaimana, kapan, dengan siapa? Pertanyaan seperti itu wajar muncul dalam diri lansia karena perhatian dan kepedulian yang masih rendah dari banyak kalangan (pemerintah, organisasi kemasyarakatan, termasuk keluarga) terhadap fenomena lansia. Sehingga hambatan lansia untuk tetap produktif diperkirakan disebabkan oleh: 1) rendahnya dukungan keluarga, masyarakat dan lembaga, 2) rendahnya tingkat pengetahuan lansia, dan 3) rendahnya mobilitas lansia (karena sakit).***
*) Dosen STID Al-Biruni Cirebon, Alumni International Short Program in Demographic Aspects of Population Ageing and its Implications UNFPA/INIA – Malta.










