Gunung Kuda dan Mitos Kijang Si Waluh Gawe

0
2757

MUSIBAH longsornya Galian C Gunung Kuda yang terletak di Desa Cipanas Kecamatan Dukuputang Kabupaten Cirebon, menyisakan segudang cerita mistik di masyarakat sekitar lokasi galian. Masyarakat sekitar menyakini bahwa di lokasi tersebut sangat angker dan menyeramkan. Bahkan bagi warga pendatang bila di tempat tersebut untuk tidak berkata sompral dan takabur.

Konon, diyakini masyarakat sekitar di wilayah tersebut dikuasai oleh mahluk halus yang kerap kali terlihat menyerupai Kidang atau Rusa yang bernama Kijang Si Waluh Gawe. Bahkan suara-suaranya sering terdengar tak kala akan ada peristiwa longsor dan sejenisnya. Selain itu di sekitar lokasi longsor terdapat dua goa yang ada di atas bukit tersebut.

Kidang tersebut, sering melolong seperti anjing hutan yang suaranya lolonganya cukup membuat orang merinding. Biasanya, suara-suara itu terdengar sejak magrib hingga tengah malam, bila terdengan suara tersebut bisa dipastikan aka nada peristiwa baik itu dilokasi galian tambang atau di jalan raya yang tak jauh dari lokasi galian tersebut.

Selain, adanya Kidang Si Waluh Gawe, menurut masyarakat setempat. Setiap pengusaha galian pertambangan setiap tahunnya selalu memotong sapi, dan kepala sapinya biasanya ditanam di lokasi galian. Hal tersebut masih dilakukan oleh pengusaha karena ingin meminta keselamatan bagi usahanya maupun para pekerjanya.

Salah seorang yang pernah mengalami nasib yang tragis dan tidak bisa dicerna akal sehat adalah, Dikin (36) warga Desa Lengkong Kulon Kabupaten Majalengka. Menurutnya pada tahun 2006 silam dirinya sebagai sopir mobil truk pengangkut galian C dilokasi tersebut. Namun saat itu mobil yang dia parkir tiba-tiba jalan sendirin dan masuk kejurang. Namun dirinya selamat karena saat itu berada di luar.

“Dulu mobil saya masuk kejurang, akibat kejadian itu saya beralih menjadi sopir mobil luar kotaan hingga saat ini,” katanya.

Dikatakannya, setiap tahunya dipastikan ada korban, dan kalau tidak dilokasi galian C ada kejadian di jalan raya. Dulu, kata dia, penggalian sampai jam 10 malam, namun setelah diprotes oleh warga dan pesantren maka galian hanya siang hingga sore hari.

“Sudah dua malam ini, ada lolongan anjing hutan dan rusa penunggu di lokasi galian, biasnya kalau ada pertanda tersebut dipastikan aka nada peristiwa yang menelan korban jiwa, seperti sekarang ini. Kejaian ini peristiwa yang paling besar,” ujarnya.

Longsor Gunung Kuda yang terjadi kali ini menyisakan trauma yang mendalam bukan hanya bagi keluarga korban. Salah seorang pegawai Koperasi Usaha Desa (KUD) Bumi Karya, Tohir, selamat dari maut. Pria yang bertugas di pos jaga area penambangan tersebut nyaris menjadi korban.

Ditemui di pos jaga area pertambangan, Tohir dengan raut wajah shok bercerita, sesaat sebelum kejadian longsor maut itu, sebuah dumptruk masuk ke area penambangan. Diduga selain sang sopir, dumptruk tersebut membawa dua orang kuli angkut. Ia yang seharusnya mencatat plat nomor polisi (nopol) setiap kendaraan angkutan yang masuk, saat itu ia tak mencatatnya. “Mobilnya nyelonong aja masuk,” kata Tohir.

Kakek warga Blok Cicebak Desa Cipanas Kecamatan Dukupuntang itu menambahkan, salah seorang rekannya, Edo dan Raihan, semula berada di dekat pos jaga, lantas menghampiri dumptruk tersebut untuk mencatat nopol. “Edo sama Raihan kemudian ke sana (lokasi penambangan, red),” ujarnya.

Merasa harus memberikan tanda bukti pembayaran sejenis retribusi kepada sopir dumptruk, Tohir lantas beranjak dari pos jaga. Ia berjalan menuju lokasi penambangan. Namun ada hal mistis yang ia rasakan. Sampai di tengah perjalanan menuju lokasi penambangan, Tohir tiba-tiba merasakan bisikan berhembus ke telinganya.

“Belum sampai ke lokasi, pas saya lagi jalan tiba-tiba saya mendengar ada bisikan dekat dengan telinga saya. Bisikan itu berkata, ‘aja mono, arepan rugrug’ (jangan ke situ, mau longsor, red). Saya juga heran itu suara siapa, karena saya jalan sendirian dan sepi,” kata dia.

Merasa peduli dengan dua rekan serta beberapa orang yang berada di bawah tebing lokasi penambangan, Tohir lantas menjerit, meminta beberapa orang tersebut agar segera menjauhi tebing. Seraya mengacungkan kepalan tangannya, Tohir beberapa kali memperingatkan para pekerja agar menyudahi aktivitasnya.

“Saya sampai teriak-teriak sambil tangan saya ngepal gini. Saya bilang ke mereka, hey turun cepetan. Tapi tidak digubris. Kemudian saya balik lagi ke pos jaga. Tapi pas belum sampai pos jaga, saya mendengar gemuruh, ternyata longsor,” katanya, seraya menunjukkan caranya meneriaki beberapa orang itu dengan kepalan tangan mengacung.

Ia tak bisa membayangkan bila memaksakan berjalan menuju lokasi penambangan persis di bawah tebing tinggi itu. “Kalau saya memaksakan ke sana, pasti ikut tertimbun juga. Saya lihat itu awalnya batu berukuran besar dulu jatuh, runtuh semua,” katanya, sesekali mengusap air matanya lantaran sedih rekannya jadi korban longsor.

Persis setelah kejadian itu, Tohir merasakan lemas yang teramat dahsat. Karena merasa sudah mendapat firasat, tapi tak bisa menyelamatkan teman kerjanya. Sampai-sampai, ia tak sadarkan diri. “Saya pingsan karena tahu itu teman-teman saya. Saya lemas, kemudian mungkin pingsan. Karena saat saya bangun, tiba-tiba sudah di rumah. Kata orang yang membawa saya, mereka bilang bahwa saya ditemukan pingsan,” tuturnya.

Bukan hanya sesaat sebelum kejadian, Tohir baru ingat, dirinya juga mendapat firasat pada malam harinya. Ia bermimpi, di lokasi penambangan tersebut tengah digelar tasyakuran. Tapi terdapat keganjilan dalam mimpinya itu.

“Tadi malam (Sabtu malam, red) saya mimpi, di sini sedang ada syukuran rame banget. Seperti biasa, kalau dalam syukuran kan ada makan-makannya. Tapi anehnya, menu (lauk) daging itu hanya cukup untuk setengah dari jumlah orang yang hadir. Setengahnya lagi gak kebagian daging,” tutur dia.

Dijelaskan Tohir, area penambangan batu alam itu dikelola KUD Bumi Karya yang berkantor di Palimanan. Kakek dari 4 anak dan 8 cucu itu bekerja di KUD tersebut sudah sekitar 7 tahun. “Alhamdulillah belum lama ini sudah diangkat jadi karyawan tetap, gajinya Rp1,1 juta per bulan,” katanya.

Untuk besaran retribusi mobil angkutan masuk, disebutkan Tohir, kisaran Rp20-25 ribu. Ia mengaku, besaran retribusi tak menentu, tergantung bahan bebatuan yang diangkur mobil tersebut. “Ya yang terkecil kisaran Rp20-25 ribu,” katanya.

Kini, Tohir berharap jenazah kedua temannya segera ditemukan dan tidak terjadi kembali longsor yang menelan korban jiwa. (Enon/CNC)

Komentar Anda

komentar

BAGIKAN