Metropolitan Cirebon Raya

0
2599

Oleh Diding Karyadi

DIBUKANYA jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali) pada pertengahan 2015 lalu, menjadi penanda yang paling nyata, tegas dan terasa, bahwa ada suatu “perubahan besar” yang tengah berlangsung di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Sebab, sejak jalan bebas hambatan sepanjang 116 km tersebut difungsikan, hampir seluruh sektor kehidupan menggeliat mengikuti perkembangan baru, yang meskipun menurut para elite negeri hal itu merupakan sebuah keniscayaan sesuai dengan perencanaan pembangunan, namun bagi sebagian besar masyarakat masih sulit ditebak kemana arah tujuannya.

Terutama dalam soal arus orang dan barang, khususnya dari Cirebon ke Jakarta dan sebaliknya, serta dari Cirebon ke Bandung dan sebaliknya, terasa sekali bahwa baik dari sisi kuantitas maupun kulitasnya, terdapat kenaikan yang sangat signifikan bila dibandingkan antara sebelum dan sesudah ada tol Cipali. Dinamika transportasi itu kemudian diikuti oleh geliat hebat di bidang lain, seperti bidang perdagangan dan jasa, infrastruktur, akomodasi, pariwisata, bahkan politik dan pemerintahan.

Tetapi apakah tol Cipali merupakan pesona akhir (klimaks) dari “perubahan besar” itu? Ataukah justru dia hanya akan menjadi penanda awal dari serangkaian pesona perubahan lain yang akan berlangsung kemudian, yang mengarah pada sebuah ideom baru yakni Metropolitan Cirebon Raya?

Berdasarkan situasi yang berkembang saat ini, tampaknya pertanyaan retoris yang kedua yang akan tampil sebagai jawaban. Sebab selain tol Cipali yang telah berhasil menciptakan fenomena baru di tahun 2015, ada sejumlah informasi aktual lain yang sangat relevan dengan grand design terkait “perubahan besar” di wilayah Cirebon tersebut. Sekadar contoh, sebut saja pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati-Majalengka yang kini sudah mulai dikerjakan. Lalu revitalisasi Pelabuhan Cirebon yang untuk tahun 2016 saja dianggarkan akan menelan biaya tak kurang dari Rp 1 Triliun. Belum lagi rencana pembangunan kereta api cepat yang dikabarkan pelaksaannya akan dikebut untuk dapat menyesuaikan dengan geliat pengembangan Metropolitan Cirebon Raya.

Di sektor swasta, para pengusaha yang bergerak di berbagai bidang juga telah menunjukkan keyakinan yang tinggi serta kemantapan rencana untuk turut ambil bagian dalam geliat perubahan besar-besaran itu. Puluhan hotel dan restoran baru telah bermunculan terutama di wilayah Kota dan Kab. Cirebon serta Kab. Kuningan. Belasan pabrik besar, sedang dan kecil telah dibangun terutama di wilayah Kab. Cirebon dan Kab. Majalengka. Begitu pula para pengusaha yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa, baik domestik maupun mancanegara, telah menunjukkan tanda-tanda bahwa saat ini mereka telah mengarahkan mata pedang pengembangan usaha mereka ke wilayah ini.

Tetapi, sebelum lanjut, ada baiknya kita memahami secara mendalam, apakah yang dimaksud dengan metropilis?

Menurut Giffinger (2012), metropolisasi adalah sebuah proses restrukturisasi kota pada suatu wilayah dengan lintas batas administratif dilihat secara fungsional, struktural maupun isu strategis. Sebuah metropolitan terbentuk akibat adanya konsentrasi dari fungsi ekonomi (baru) dan penduduk. Ia menjadi node dalam jaringan global, memiliki kegiatan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan yang semakin intensif dan berfungsi khusus yang ditugaskan sebagai kekuatan pendorong. Proses metropolisasi dipicu oleh pengembangan Infrastruktur (Infrastructure-led development), khususnya infrastruktur mega project.

Bila ditautkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018, geliat pembangunan di segala bidang yang terjadi di wilayah Cirebon dan sekitarnya dalam beberapa tahun terakhir sejatinya merupakan pengejawantahan dari rencana apik dan matang yang telah dirumuskan jauh-jauh hari sebelumnya. Sebab, dalam RPJMD Jabar itu disebutkan bahwa peran dari wilayah Metropolitan Cirebon Raya dikembangkan sebagai metropolitan budaya dan sejarah, dengan sektor unggulan wisata, industri, dan kerajinan.

Lebih jauh RPJMD Jabar juga menyebutkan, sebagai sebuah kawasan terpadu, Metropolitan Cirebon Raya, yang meliputi wilayah administratif Kota dan Kab. Cirebon, Kab. Majalengka, Kab. Kuningan, Kab. Indramayu dan sebagian wilayah Kab. Sumedang, memiliki posisi strategis sebagai pusat aglomerasi penduduk, aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Maka, tujuan pengembangan Metropolitan Cirebon Raya diarahkan pada tujuan akselerasi pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, modernisasi, pemerataan dan pembangunan berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan jumlah investasi swasta, meningkatkan fasilitas dan kualitas pelayanan, dan pengembangan industri ekonomi kerakyatan. Sektor unggulan dari Metropolitan Cirebon Raya adalah indutri manufaktur serta perdagangan dan jasa, selain sebagai pintu gerbang keluar-masuk barang.

Rencana Pemprov Jabar tersebut langsung mendapatkan renspons dari berbagai pihak. Salah satunya sekelompok pelaku ekonomi yang tergabung dalam Forum Ekonomi Jabar (FEJ) telah menyodorkan sebuah konsep pengembangan wilayah Metropolitan Cirebon Raya kepada Gubernur Jawa Barat pada tahun 2014. Mereka membagi sejumlah wilayah administratif yang tergabung dalam Metropolitan Cirebon Raya tersebut ke dalam dua kategori, yaitu sebagai wilayah pusat pertumbuhan industri dan wilayah pendukung pusat pertumbuhan industri.

Dalam konsep tersebut, yang termasuk wilayah pusat pertumbuhan industri adalah kawasan peruntukan industri Kertajati dan Ujungjaya (Kab. Majalengka) dan kawasan peruntukan industri Cirebon (Kab. Cirebon). Sedangkan wilayah yang menjadi potensi wilayah pendukung pusat pertumbuhan industri adalah Kota Cirebon sebagai pusat pelayanan perdagangan dan jasa pendukung, Kabupaten Indramayu sebagai kawasan agrowisata dan wilayah penyangga, Kabupaten Majalengka sebagai pusat penyedia layanan transportasi dan perumahan, Kabupaten Kuningan sebagai kawasan pariwisata dan wilyah penyangga serta Kabupaten Sumedang sebagai kawasan pariwisata dan pusat inovasi (FEJ 2014).

Pertanyaannya, bagi putra daerah (kita yang tinggal di Kota/Kab. Cirebon, Kab. Indramayu, Kab. Majalengka dan Kab. Kuningan), peran apa yang bisa kita mainkan dalam lakon kolosal bertajuk “Metropolitan Cirebon Raya” itu?

Jawabannya tentu beragam, tergantung bidang yang menjadi fokus dan spesialisasi masing-masing. Tetapi bagi kami (CirebonNews.Com), hal yang terpenting adalah tidak berpangku tangan dan menjadi penonton apalagi menjadi tamu di daerah sendiri. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang industri pers, kami akan mengambil peran secara maksimal mengawal sekaligus menjadi elemen penting dalam perubahan besar tersebut.

Sebagaimana dimaklumi, peran pers dalam pembangunan dan modernisasi adalah sebagai agen pembaharu (agent of social change) atau aktif membantu memperkenalkan perubahan sosial. Sebagai pekerja media massa, kami menyediakan diri untuk dimanfaatkan sebagai perangsang proses pengambilan keputusan, memperkenalkan usaha modernisasi dan membantu mempercepat proses peralihan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Kami juga sudah menyiapkan diri untuk menjadi sarana bagi kegiatan penyampaian kepada masyarakat tentang program-program pembangunan dan sebaliknya menyuarakan aspirasi masyarakat tentang program-program pembangunan kepada para pengambil kebijakan.

Walhasil, kami Insyaallah telah siap menyongsong perubahan besar itu. Dan kami pun mengajak kepada semua pihak untuk bergerak cepat mempersiapkan diri menyambut arus perubahan besar tersebut. Selamat Datang 2016, Selamat Datang Metropolitan Cirebon Raya! ***

Komentar Anda

komentar

BAGIKAN