Panjang Jimat, Simbolisasi Kultural Maknai Kelahiran Nabi

0
550
PARA abdi dalem beriring-iringan membawa benda-benda pusaka pada acara malam Panjang Jimat di Keraton Kanoman.

MELANJUTKAN TRADISI khazanah leluhur, Keraton Kanoman menggelar prosesiĀ  Panjang Jimat, Senin (12/12) malam. Prosesi tersebut merupakan simbolisasi atas kelahiran orang paling mulia sepanjang zaman, yakni Nabi Muhammad SAW.

Juru bicara Keraton Kanoman, Raja Ratu Arimbi Arimbi Nurtina menuturkan, Panjang Jimat adalah prosesi iring-iringan pasukan dan abdi dalem keraton yang membawa benda-benda pusaka yang merupakan simbolisasi kultural dalam memperingati momentum hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW. Dia menejalskan, inti dari prosesi panjang jimat sendiri adalah sebagai tradisi peringatan Maulud/Maulid/Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Panjang secara bentuk berarti piring, ambeng (tempat makan) gusti rosul dan para sahabatnya, Jimat singkatan dari diaji dan dirumat yang artinya dipelajari dan diamalkan/kembali kepada fitrah sebagai manusia untuk mengamalkan ajaran Islam. Dalam piring/Panjang sendiri terdapat beberapa tulisan yang mengandung nilai ajaran Islam yang harus menjadi Jimat (diaji dan dirumat) oleh segenap pemeluk Islam sebagai tujuan dari perayaan tahunan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Panjang Jimat juga merupakan syiar yang ditandai dengan simbol-simbol nonverbal benda-benda pusaka yang menegaskan perpaduan makna tradisi dan ajaran Islam. Dalam prosesi ini, juga menampilkan bebagai simbolisasi apa-apa yang dibutuhkan orang dalam proses kelahiran atau jabang bayi, seperti bidan, air, dan gunting.

Iringi-iringan benda pusaka tersebut dipimpin langsung Pangeran Patih Raja Mochamad Qodiran dengan lantunan zikir dan bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Arak-arakan yang dipimpin Pangeran Patih PRM Qodiran yang mengenakan Jubah emas, mendapat banyak perhatian pengunjung tanpa berbicara sepatah kata pun selama dalam prosesi.

Lanjutnya Ratu Arimbi menjelaskan para pengunjung juga pada hakekatnya tidak boleh ada yang bersuara dan mengikuti berzikir dan hendaknya bersalawat seperti yang dilakukan PRM Qodiran. Arak-arakan tersebut melewati gapura Si Blawong yang tinggi besar dan pintunya hanya dibuka setahun sekali, yakni pada acara Panjang Jimat. Selanjutnya, arak-arakan tersebut berakhir di Masjid Agung Keraton Kanoman untuk melakukan acara zikir dan salawatan dan berdoa bersama.

Makna Panjang jimat itu, Ratu Arimbi menyebutkan bahwa manusia diajak untuk mencari dan melewati pintu Keselamatan yang disimbolkan melewati pintu besar Si Blawong. Sejatinya arti dari pintu Keselamatan itu adalah memeluk agama Islam. Masyarakat yang hadir pada prosesi Panjang Jimat tersebut tampak berbaris rapat di sepanjang arak-arakan dari Langgar Keraton menuju Masjid Agung Keraton Kanoman.

Peringatan Panjang Jimat Keraton Kanoman pada Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1436 Hijiryah atau 12 Desember 2016 ini, Ratu Arimbi menyampaikan pesan Sultan Kanoman XII, Kanjeng Gusti Sultan Muhammad Emirudin bahwa melalui Panjang Jimat ini diharapkan masyarakat Indonesia, khususnya Cirebon dijauhkan dari musibah serta dapat kembali pada ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

Turut hadir dalam acara Panjang Jimat Keraton Kanoman, Wali Kota Cirebon, Nasrudin Azis, Ketua DPRD Kota Cirebon, Edi Suripno, para ulama, pimpinan partai politik, sejumlah pimpinan Forkopimda, budayawan, pimpinan ormas, seniman, tokoh masyarakat, dan masyarakat dari penjuru daerah. (Iwe/CNC)

Komentar Anda

komentar

BAGIKAN