Warkina, Guru Honorer SMP Rela Habiskan Waktu Mengajar Lansia

0
482
BEBERAPA peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga tampak serius mengikuti kegiatan belajar mengajar yang dirintis Warkina.

WARKINA (38), salahsatu warga Blok Jumat Desa Suranenggala, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon patut ditiru oleh siapa pun. Pasalnya, di tengah kesibukannya sebagi guru honorer di SMPN 2 Kapetakan, dia masih bisa menyempatkan waktunya untuk membimbing ibu-ibu lanjut usia (lansia) agar bisa membaca dan munulis.

Semangat untuk belajar tampak terlihat di antara ibu-ibu dengan memegang alat tulis dan buku bacaan di dalam ruangan terbuka berukuran sekitar 8 x 4 meteran, Minggu (22/1). Walaupun belajar dengan lesehan di depan halaman rumah Warkina, mereka terlihat tetap menikmatinya.

Maklum fasilitas untuk tempat mendidik masyarakat di desanya itu masih belum mampu ia sediakan. Di depan pintu masuk halaman rumah Warkina yang kira-kira hanya berukuran 8×4 meteran itu, tampak jelas terdapat kalimat bertuliskan “BELAJAR TAK KENAL USIA”, sebagai penyemangat para lansia untuk tetap menuntut ilmu.

Warkina yang menggagas kegiatan keaksaraan fungsional itu menceritakan, upaya untuk dapat mencerdaskan masyarakat dilakukan dirinya sejak 2010. Dengan bermodalkan semangat untuk mengubah pola pikir masyarakat di desanya, ia pun tak kenal lelah mentransfer ilmu kepada peserta didiknya setiap hari dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Semangatnya yang tinggi perlahan satu persatu lainsia yang ada di wilayah tersebut dapat membaca, menulis dan menghitung. “Motivasi saya seperti ini karena ingin mengubah karakter masyarakat di wilayah kita ini. Sebab, selama ini daerah kita terkenal dengan ototnya saja, maka saya berusaha untuk mengubah itu, tidak menggunakan otot tapi dengan otak,” ujar Warkina kepada sejumlah wartawan di sela-sela kseibukannya  mendidik para Lansia di rumahnya.

Para Lansia yang ikut belajar di rumahnya ini, kata Warkina,  kini berjumlah 95 orang, dari mulai usia 35-55 tahun. Belajar dilakukan satu minggu dua kali, yakni pada Jumat dan Minggu sore. Durasi belajar yang diterapkan Warkina hingga 2,5 jam setiap kali pertemuan.  “Belajarnya juga yang mudah-mudah, mengenalkan huruf, menulis huruf-huruf, serta belajar tanda tangan. Karena tanda tangan juga penting,” katanya.

Dalam upaya mengubah karakter masyarakat di wilayahnya, Warkina pun dibantu dua orang perempuan sebagai tutor dan beberapa orang laki-laki yang setiap hari menemani dia keliling membawa mobil perpustakaan malam, yang ia sebut dengan nama “Layanan Bacaan Masyarakat”.

Mobil yang penuh dengan buku-buku bacaan itu, ia gunakan untuk berkeliling ke desa-desa di Kecamatan Kapetakan setiap malam. Target untuk memancing semangat masyarakat memabaca buku, yakni tempat-tempat ramai seperti pasar malam. Sebab, selama satu minggu penuh, pasar malam selalu ada di daerahnya. “Jadi kita keliling setiap malamnya di desa-desa yang ada pasar malanya. Alhamdulillah sekarang antusias masyarakat untuk gemar membaca dan belajar pun sudah tingggi,” ungkap Warkina.

Selain dua program kegiatan pendidikan untuk masyarakat yang ia lakukan tanpa memungut biaya itu, Warkina juga telah menyediakan pendidikan usia dini (PAUD) bagi anak-anak di desanya. Yang lebih menarik, siswa tak dipungut untuk bayar uang dalam pendidikan itu, hanya saja mereka setiap minggu membayarnya dengan sampah rumah tangga atau yang ia sebut dengan gerakan peduli lingkungan. “Dan setiap bulan saya jual sampah-sampah itu ke teman saya yang hasilnya dikembalikan lagi untuk kebutuhan belajar anak-anak PAUD. Seperti untuk membeli tas, buku, dan alat-alat belajar lainnya,” kata Warkina.

Selain itu, Warkina juga mempunyai pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), baik paket A, B, maupun C yang peserta didiknya kini sudah lebih 400 orang dari mulai usia 18-22 tahun. Semua lembaga dan tempat kegiatan yang dilakukannya itu, ia namakan “Balai Wiyata”.

Untuk peserta didik yang paling banyak, kata dia, yakni masyarakat yang mengikuti pendidikan paket C yang jumlahnya hingga mencapai lebih dari 200 orang.Upaya yang dilakukan Warkina dalam mencerdaskan masyarakat hingga tujuh tahun itu, penuh dengan kesabaran dan keistiqomaan. “Alhamdulillah antusias masyarakat sudah sangat tinggi. Cara yang dilakukan sebenarnya sederhana, saya jadi contoh dulu dengan menerapkan akhlak yang baik kepada masyarakat,” ujar Warkina.

Salah seorang peserta didik Keaksaraan Fungsional di Balai Wiyata, Hj Wasiah (52 tahun) menyatakan, dirinya merasa sangat bersyukur bisa ikut belajar di tempat itu. Sebab, ia yang hanya pernah merasakan sekolah kelas 5 SD itu, kini sudah bisa membaca dan menulis. “Alhamdulillah saya bisa belajar lagi. Dan sangat berterima kasih kepada pak guru dan ibu guru  yang sudah telaten mendidik saya,” ujar Wasiah.(Enon/CNC)

Komentar Anda

komentar

BAGIKAN